Gambar: Ilustrasi grafik lonjakan harga emas dengan latar belakang gedung bursa efek dan batangan emas. (Dok: Utusan Bangsa/AI)
Jakarta (Utusan Bangsa) – Praktisi pasar modal kawakan Kartika Sutandi atau yang akrab disapa Tjoe Ay memperingatkan investor untuk berpindah dari saham perbankan ke emas di tengah tekanan jual masif investor asing. Dalam sebuah podcast yang ditayangkan 16 Oktober 2025, Tjoe Ay yang telah berkecimpung di pasar modal selama 29 tahun itu menyatakan harga emas berpotensi menembus USD 5.000 per ons tahun depan, didorong oleh pembelian besar-besaran bank sentral global, terutama China.
Tjoe Ay, yang kini menjabat sebagai Chief Marketing Officer dan Partner di Jarvis Asset Management, menyampaikan bahwa lonjakan harga emas disebabkan oleh upaya bank sentral China, Rusia, India, dan negara-negara lain yang membuang surat utang AS dan mengalihkannya ke emas. Data World Gold Council mencatat bank sentral global menambah sekitar 244 ton emas pada kuartal pertama 2025, meningkat 24 persen dari rata-rata lima tahun terakhir. Goldman Sachs pada 7 Oktober 2025 menaikkan proyeksi harga emas Desember 2026 menjadi USD 4.900 per ons dari sebelumnya USD 4.300, dengan alasan arus masuk dana ke exchange-traded fund di Barat dan pembelian berkelanjutan oleh bank sentral.
Pada 17 Oktober 2025, harga emas batangan Antam tercatat Rp 2.485.000 per gram, melonjak Rp 78.000 dari hari sebelumnya dan mencatat rekor tertinggi sepanjang masa. Namun, kelangkaan pasokan emas fisik menjadi fenomena tersendiri, dengan premium harga mencapai Rp 10-25 juta di atas harga resmi karena tingginya permintaan. Implementasi Basel III sejak 1 Juli 2025 yang mengakui emas fisik sebagai aset Tier 1 Capital oleh bank-bank di Amerika Serikat turut mendorong permintaan emas global, karena emas kini dapat dihitung sepenuhnya dari nilai pasarnya sebagai bagian dari modal inti bank, setara dengan uang tunai dan obligasi pemerintah.
Tjoe Ay menyarankan investor untuk memegang emas secara jangka panjang tanpa melakukan trading, karena ketidakpastian hingga level mana harga akan naik. Ia mengalokasikan sekitar 30 persen portofolionya pada saham emas, dengan rekomendasi emiten seperti PT Archi Indonesia Tbk, PT Bumi Resources Minerals Tbk yang akan masuk indeks MSCI, PT Dewa Ruci Indonesia Tbk, PT CuanEmas Indonesia Tbk, dan PT Aneka Tambang Tbk. Dari sisi fundamental dan potensi arus dana, Archi dinilai masih menarik karena baru akan masuk ke gold index, sementara BRMS sudah naik signifikan dari sekitar Rp 100 per saham dua tahun lalu menjadi Rp 1.000 per saham saat ini.
Sementara itu, sektor perbankan mengalami tekanan berat akibat aksi jual investor asing yang belum berhenti. Data perdagangan periode 6-10 Oktober 2025 mencatat investor asing melakukan net sell sebesar Rp 3,4 triliun terhadap saham bank berkapitalisasi besar, dengan PT Bank Central Asia Tbk mencatatkan net sell tertinggi Rp 1,36 triliun, diikuti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk senilai Rp 1,26 triliun, PT Bank Mandiri Tbk sebesar Rp 475 miliar, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk senilai Rp 310 miliar. Saham BRI turun 8,58 persen secara year to date ke level Rp 3.730 per saham, sementara BCA terkoreksi hingga menyentuh level terendah Rp 7.300 per saham pada 9 Oktober 2025.
Tjoe Ay menjelaskan bahwa saham perbankan besar seperti BCA, BRI, Bank Mandiri, dan BNI memiliki free float sekitar 40 persen, dengan lebih dari 50 persen di antaranya dimiliki investor asing. Ketika investor asing memutuskan untuk keluar dari Indonesia, mereka menjual semua kepemilikannya tanpa memandang fundamental emiten. Penjualan masif ini hanya dapat ditampung oleh investor ritel domestik, karena fund manager lokal sudah mencapai batas maksimum kepemilikan 10 persen per saham sesuai regulasi Otoritas Jasa Keuangan, sementara dana kelolaan mereka stagnan bahkan cenderung turun. Ia memperkirakan investor asing baru akan kembali jika pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai di atas 6 persen, pemberantasan korupsi berhasil dilakukan, dan iklim investasi membaik dengan kepastian hukum yang kuat.
Di sisi lain, saham-saham konglomerat justru menjadi incaran investor ritel karena banyaknya aksi korporasi seperti right issue dan akuisisi yang menciptakan excitement di pasar. Investor ritel kini menguasai lebih dari 50 persen komposisi kepemilikan pasar saham Indonesia per Juni 2025, dengan jumlah investor mencapai 16,99 juta, melonjak hampir enam kali lipat dibandingkan 2,5 juta pada 2019. Tjoe Ay menyatakan fenomena ini akan berlanjut hingga akhir tahun, dengan emiten-emiten milik konglomerat seperti Haji Isam masih memiliki pipeline aksi korporasi yang panjang, menjadikannya pilihan menarik bagi investor yang mencari pergerakan harga signifikan dalam jangka pendek.
Tjoe Ay menegaskan pentingnya mengikuti aliran dana di pasar dan tidak terjebak menjadi pihak yang “membersihkan pesta” ketika momentum sudah berakhir. Ia juga memperingatkan bahwa pelemahan rupiah akibat defisit neraca transaksi berjalan dan arus keluar modal akan berdampak pada inflasi, terutama menekan sektor farmasi yang banyak bergantung pada impor bahan baku, sementara harga jualnya dibatasi oleh tarif BPJS Kesehatan.
Sumber: Podcast Ajaib Investasi dengan Tjoe Ay (16 Oktober 2025 – youtube.com/@ajaib.investasi), Goldman Sachs, Reuters, Bisnis.com, Kontan.co.id, Logam Mulia PT Aneka Tambang, Stockbit, PT Kustodian Sentral Efek Indonesia.
(@PT)




















































Discussion about this post